Cara Membuat Silase, Tujuan, dan Manfaatnya



                                                                                       





Mengapa pembuatan silase merupakan bagian integral dari usaha pengembangan peternakan?

Jadi kelangkaan pakan ternak ruminansia kambing domba dan sapi itu adalah alasannya. Hal tersebut berpengaruh negatif terhadap pengembangan peternakan secara langsung ataupun tidak langsung.
Pada bidang ekonomi, produksi dan budidaya terdapat 2 masalah utama yang menyebabkan bahan makanan ternak yaitu khususnya bahan makanan ternak ruminansia kurang memenuhi kecukupan jumlah dan asupan zat gizi :
1. Bahan makanan pada umumnya berasal dari limbah pertanian yang rendah kadar protein kasar nya dan tinggi serat kasarnya.
2. Ketersediaan pakan yang tidak kontinyu dikarenakan langka terutama di musim kemarau

Untuk mengatasi masalah tersebut berbagai terobosan telah dilakukan, Salah satunya upaya peningkatan nilai gizi pakan ternak melalui berbagai cara :
1. Pembuatan pakan ternak menjadi hijauan kering atau disebut juga HAY
2. Penambahan urea atau amoniasi
3. Awetan hijauan atau teknologi silase pakan ternak
Yang sekarang berkembang adalah pembuatan pakan silase tidak hanya sekedar awet atau silase tapi juga kadar nutrien sesuai dengan kebutuhan gizi ternak, mengingat pentingnya kualitas pakan ternak bagi kelanjutan hidup ternak sebagai penghasil protein hewani.

Kali ini kita akan membahas lebih dalam mengenai teknik pembuatan silase atau awetan hijau.

 

Pengertian Silase

Silase Pakan Ternak


Apakah silase itu ? Prihatman pada tahun 2000 mendefinisikan silase adalah bahan makanan ternak, berupa hijauan seperti rumput-rumputan atau leguminosa, yang disimpan dalam bentuk segar, dan mengalami ensilase proses pembuatan silase.
Kartasudjana pada tahun 2001 menyebutkan bahwa silase merupakan hijauan yang difermentasi, sehingga hijauan tersebut tetap aw
et karena terbentuk asam laktat.
Sumber lain menyebutkan bahwa silase adalah pakan yang telah diawetkan, dan diproses dari bahan baku yang berupa tanaman hijauan, limbah industri pertanian, serta bahan pakan alami lainnya, dengan jumlah kadar air pada tingkat sekitar 60 sampai 70%, kemudian dimasukkan dalam sebuah tutup rapat kedap udara yang disebut silo selama sekitar 3 minggu.

Tujuan dan Manfaat Pembuatan Silase :

1. Untuk mengawetkan dan mengurangi kehilangan zat makanan suatu hijauan, agar dapat dimanfaatkan pada masa mendatang. Biasanya silase dibuat jika produksi hijauan berlimpah atau pada fase pertumbuhan hijauan dengan kandungan zat makanan optimum.
2. Untuk mengatasi kekurangan pakan ternak pada musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan.

Keunggulan & Keuntungan Silase

Beberapa keunggulan silase diantaranya adalah :
1. Pakan menjadi awet dan tahan lama dibandingkan pakan hijauan segar
2. Tidak memerlukan proses pengeringan karena walaupun dalam keadaan basah tapi aman untuk disimpan.
3. Kerusakan zat makanan atau gizi akibat pemanasan dapat diminimalisir
4. Silase Ini mengandung asam-asam organik yang berfungsi menjaga keseimbangan populasi mikroorganisme pada rumen atau perut sapi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas silase

Kualitas silase ini sangat dipengaruhi oleh:

1. Kadar air hijauan

Salah satu faktor yang mempengaruhi proses fermentasi adalah kadar air dalam hijauan. Kadar air optimum yang ideal untuk pembuatan silase sekitar 65%. Kadar air seperti ini dapat memudahkan proses fermentasi dan biasanya membantu menghilangkan oksigen. Selama proses pengemasan proses pembuatan silase atau ensilase ini pada kadar air lebih dari 70% itu tidak dianjurkan sama sekali. Persentase kandungan air yang terlalu tinggi pada bahan akan menyebabkan tingginya konsentrasi asam butirat dan amonia sila, seperti ini akan memiliki ke asaman yang rendah dan biasanya ternak tidak menyukai silase semacam ini.

Sebaliknya hijauan yang di ensilase dengan kadar air yang rendah yaitu dibawah 50%, akan mengalami fermentasi yang terbatas, sehingga menghasilkan silase yang kurang stabil dengan konsentrasi asam laktat rendah dan PH lebih rendah. Hijauan dengan kadar air rendah lebih sulit menghilangkan oksigen dari bahan silase sesuai waktu pemasukan dan pengemasan. Hal tersebut akan menyebabkan bau yang menyengat pada silase sehingga tidak disukai ternak. Kelebihan kandungan air pada bahan pun akan menyebabkan fermentasi clostridial yang tidak diinginkan.

2. Jenis tanaman

Seperti kita ketahui silase dapat dibuat dari berbagai jenis tanaman, seperti silase rumput odot, silase jagung, silase tebon jagung, silase rumput gajah, silase jerami, sereal dan hasil ikutan tanaman lainnya. Produk akhir silase sangat ditentukan oleh jenis tanaman, yang digunakan sebagai bahan dasar. Sedangkan jenis dan kualitas tanaman sendiri pada umumnya dipengaruhi oleh spesies fase pertumbuhan, cara budidaya, dan iklim. Contoh : rumput yang dipupuk dengan pupuk nitrogen tinggi umumnya tidak menghasilkan silase yang lebih baik dibandingkan dengan hijauan yang dipupuk dengan pupuk nitrogen biasa. Selanjutnya rumput yang dipupuk dengan nitrogen, kandungan protein kasar lebih tinggi dengan kandungan gula lebih rendah. Pemilihan hijauan atau bahan memiliki kandungan gula tinggi perlu dilakukan apabila akan dilakukan pembuatan silase dalam skala besar dan dalam jumlah yang sangat banyak.


3. Aditif Silase.

Jika kandungan gula pada hijauan yang akan dijadikan bahan silase kurang, maka perlu dilakukan penambahan zat aditif untuk sumber substrat bagi bakteri penghasil asam laktat. Aditif yang digunakan tentu harus merupakan bahan yang mengandung gula, yang salah satunya adalah molasses, yaitu produk sampingan dari ekstraksi gula yang berasal dari tumbuhan. Bahan aditif lainnya bagi silase biasanya berupa bakteri inokulan dan enzim.

Secara umum terdapat tiga sifat aditif silase yaitu
1. Berperan sebagai stimulan fermentasi contohnya inokulan bakteri dan enzim
2. Berperan sebagai inhibitor fermentasi yaitu contohnya Asam propionat Asam format dan asam sulfat dan
3. Berperan sebagai substrat contohnya adalah molasses Urea dan amonia

Prinsip Dasar Cara Membuat Silase dan Tahapan Pembuatan Silase


Prinsip dasar cara pembuatan silase adalah memacu terjadinya kondisi Anaerob dan asam dalam waktu singkat . Ada tiga hal penting yang perlu dilakukan agar diperoleh kondisi tersebut yaitu
1. Menghilangkan udara dengan cepat dengan cara menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman atau disebut juga dengan respirasi mengubah karbohidrat menjadi asam laktat yang membantu menurunkan PH dan ini disebut fermentasi
2. Menghambat pertumbuhan jamur selama penyimpanan dengan menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk yaitu biasanya bakteri clostridium sehingga akan terjadi tidak terjadi pembusukan yang tidak diharapkan saudara

Mari kita bahas satu persatu ketiga prinsip pembuatan silase tersebut
1. Respirasi
Sebelum sel-sel di dalam tumbuhan mati atau tidak mendapatkan oksigen maka mereka melakukan respirasi untuk membentuk energi yang dibutuhkan dalam aktivitas normalnya respirasi merupakan konversi karbohidrat menjadi energi dan bermanfaat untuk menghabiskan oksigen yang terkandung di dalamnya beberapa saat setelah bahan dimasukkan ke dalam Silo.
Namun respirasi ini mengonsumsi karbohidrat dan menimbulkan panas, sehingga waktunya harus sangat dibatasi.

Respirasi yang kelamaan di dalam bahan baku silase dapat mengurangi kadar karbohidrat dan pada akhirnya bisa menggagalkan proses fermentasi.
Pengurangan kadar Oksigen yang berada di dalam bahan baku silase saat berada pada ruang yang kedap udara yang disebut dengan Silo adalah cara terbaik untuk meminimumkan masa respirasi ini.

Dengan kata lain proses pembuatan silase akan mempercepat atau memperlambat proses respirasi dan menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman pada saat kadar oksigen habis maka dimulailah proses fermentasi fermentasi

Ini adalah proses menurunkan kadar pH dan bahan baku silase sampai dengan kadar pH di mana tidak ada lagi Organisme yang dapat hidup dan berfungsi dalam Silo. Penurunan kadar pH ini dilakukan oleh asam laktat yang dihasilkan oleh bakteri lactobacillus. Bakteri ini akan ada di dalam bahan baku silase dan dengan cara mengonsumsi karbohidrat dia akan tumbuh dan berkembang dengan cepat sampai bahan baku silase terfermentasi semua.
Sampai pada tahap ini kadar pH tertentu dimana tidak memungkinkan lagi bakteri beraktivitas berada pada keadaan yang sangat stagnan atau tetap dan bahan baku silase pun berada pada keadaan yang tetap. Keadaan Inilah yang disebut keadaan fermentasi atau terfermentasi atau terawetkan.
Silase yang telah terfermentasi atau terawetkan ini dapat disimpan bertahun-tahun, selama tidak ada Oksigen yang menyentuhnya

Bakteri clostridium sudah terdapat pada hijauan atau bahan baku lainnya saat mereka dimasukkan ke dalam silo, bakteri ini mengonsumsi karbohidrat protein asam laktat sebagai sumber energi dan kemudian mengeluarkan asam butirat yang dapat menyebabkan pembusukan silase. 


Kurangnya karbohidrat, proses respirasi yang terlalu lama, dan terlalu banyak kadar air di dalam bahan baku akan menyebabkan keadaan yang menyuburkan tumbuhnya bakteri clostridium dan menurunkan jumlah bakteri lactobacillus. Itulah sebabnya kadang diperlukan penggunaan bahan tambahan atau aditif.

Secara ringkas terdapat enam tahapan cara membuat silase hijauan pakan ternak :

1. Semaksimal mungkin dilakukan pencegahan masuknya udara atau oksigen ke dalam Silo sehingga keadaan anaerobik yang diperlukan untuk pembuatan silase dapat secepatnya tercapai. Kunci sukses pada tahapan ini adalah kematangan bahan kelembaban bahan, panjangnya pemotongan yang akan menentukan kepadatan dalam Silo, kecepatan memasukkan bahan kedalam Silo, kekedapan serta kerapatan Silo.

2. Dimulainya proses fermentasi yang ditandai dengan dimulainya pertumbuhan dan perkembangan bakteri asam asetat bakteri ini akan menyerap karbohidrat dan menghasilkan asam asetat. Pertumbuhan asam asetat ini sangat diharapkan karena di samping bermanfaat untuk ternak ruminansia, juga dapat menurunkan kadar pH yang sangat diperlukan pada fase berikutnya. penurunan kadar pH di dalam biasanya dibawah 5. Perkembangan bakteri asam asetat akan menurun dan akhirnya berhenti dan itu merupakan tanda berakhirnya fase kedua dalam fase kedua ini fermentasi hijauan berlangsung antara 24 sampai dengan 72 jam akibat dari menurunnya kadar pH akan merangsang pertumbuhan dan perkembangan bakteri anaerob lainnya yang memproduksi asam laktat. Sehingga pada tahap 2 ini jumlah bakteri anaerob akan bertambah terus dengan bertambahnya jumlah bakteri.

3. Karbohidrat akan terurai menjadi asam laktat akan juga makin bertambah. Untuk pengawetan yang efisien produksi asam laktat harus mencapai 60% dari total asam organik dalam silase. Saat silase dikonsumsi oleh ternak maka asam laktat akan dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh ternak.

4. Tahap ini merupakan tahap yang paling lama dari proses pembuatan silase. Tahap ini berjalan terus sampai pH dari bahan hijauan yang dipergunakan akan turun hingga mencapai kadar yang bisa menghentikan pertumbuhan segala macam bakteri dan hijauan atau bahan baku lainnya mulai terawetkan. Sehingga akhirnya tidak ada lagi proses penguraian. Selama tidak ada udara atau oksigen yang masuk atau dimasukkan

5. Tercapai kadar pH akhir atau final pencapaian final kadar pH, itu tergantung dari jenis bahan baku yang diawetkan dan juga kondisi saat dimasukkan ke dalam Silo hijauan pada umumnya akan mencapai kadar pH 4 setengah atau sampai mencapai 4. Kadar pH bukan satu-satunya indikasi dari baik buruknya proses fermentasi. Hijauan yang mengandung kadar air di atas 70% pun akan sangat menentukan hasil akhir fermentasi. Dengan hijauan seperti itu bukan bakteri yang memproduksi asam laktat yang tumbuh dan berkembang, namun bakteri clostridium bakteri ini memproduksi asam butirat yang menyebabkan silase berasa asam. Kejadian ini berlangsung karena PH diatas 5.

6. Tahap pengangkatan silase dari tempatnya atau dari Silo. Proses pengangkatan ini sangatlah penting namun biasanya tidak pernah diperhatikan oleh para peternak yang kurang berpengalaman.
Hasil riset mengatakan bahwa lebih dari 50% silase mengalami kerusakan atau pembusukan disebabkan oleh bakteri aerob saat dikeluarkan dari Silo.Oleh karena itu, kita harus hati-hati pada saat mengeluarkan silase dari Silo. Kerusakan akan terjadi hampir di seluruh permukaan silase yang terekspos oksigen.Kecermatan kerapihan dan kecepatan penanganan silase setelah dikeluarkan dari Silo yang kedap udara sangatlah perlu untuk dicermati agar tidak terjadi pembusukan.

Setelah memahami prinsip dasar pembuatan silase maka proses dan tahapan pelaksanaan pembuatan silase akan menjadi sangat mudah dipahami untuk memperjelas pemahaman. Mari kita lihat contoh pembuatan silase, bahan bakunya sebaiknya berasal dari tumbuhan atau bijian yang segar yang langsung didapat dari pemanenan, jangan yang tersimpan lama.
Bahan plastik silase merupakan jawaban yang terbaik dan termurah serta sangat fleksibel penggunaannya. Pilihlah ukuran bahan serta konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Gentong plastik biasanya berwarna biru yang mempunyai tutup yang bisa dikunci dengan rapat merupakan salah satu pilihan yang terbaik karena disamping ukurannya yang sedang, sehingga mudah untuk diangkat manusia. Kemudian dengan penambahan jumlah bisa memenuhi kebutuhan yang lebih banyak.



Sumber : https://www.youtube.com/watch?v=34d7u1-8TLU




Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel